Sepotong Pizza Gempa

Hari itu merupakan hari yang bersejarah dalam perjalanan hidupku, betapa tidak telah 35 tahun usiaku, barulah kejadian yang hari tersebut yang dampaknya masih terasa sampai hari ini terutama di Kota Padang di mana aku tinggal. Kejadian tersebut menjadi pembicaraan dimana-mana, menjadi perhatian di seluruh Indonesia malahan dengung dan perhatiannya juga diberikan oleh masyarakat dunia. Peristiwa itu adalah Gempa 30 September 2009 yang melanda Kota Padang dan beberapa Kota/Kabupaten lainnya di Sumatera Barat. Gempa yang berkekuatan 7,6 Skala Richter tersebut telah meluluhlantakkan bumi ranah minang dan meninggalkan kesedihan pada berjuta masyarakat Sumbar serta merubuhkan ribuan bangunan ataupun gedung-gedung.

Hari itu bersama sang Istri, aku sedang mencari pesanan seorang teman yang membutuhkan HP Nexian Berry yang memang lagi naik daun. Setelah selesai sholat Ashar di Masjid Taqwa Muhammadiyah, kami langsung ke daerah pecinan di Pondok dan ternyata di Sinar Telekomunikasi tersebut apa yang kami cari kebetulan telah habis dan istri hanya menukar casing nokia 3120 classicnya yang kebetulan sudah banyak noda-noda bekas makan tangan si kecil Ghozi. Kami langsung menuju XL center di jalan A. Yani yang dari berita koran sedang menbundling Nexianberry tersebut. Akan tetapi setelah sekian lama menunggu antrian kami kembali mendapatkan info bahwa mereka juga sedang kehabisan stok dan sudah banyak yang indent. Okelah, kami pikir memang belum nasibnya sang teman mendapatkan gadget yang diharapkannya. Oh ya lupa, Rita istriku sedang berbisnis kecil-kecilan dengan jualan HP secara kredit. Continue reading Sepotong Pizza Gempa

Abak, bahumu begitu kokoh,..tapi.

Abak,..izinkan anakmu mengulangi panggilan yang barangkali akan membuatmu tersenyum di alam sana. Abak,..kurindu dirimu walau ku tak mampu menggambarkan seperti apa rupamu. Abak,..yang kuningat sampai sekarang betapa kokoh bahumu menyandangku ke tepi sungai, berayun-ayun aku datas bahumu, sungguh menyenangkan,..tapi aku tak tahu tahu seperti apa rupamu,. Abak.

Bapakku yang . . . → Read More: Abak, bahumu begitu kokoh,..tapi.

Kenangan indah bersamamu, kakek...!

Kisah ini aku cukil dari penggalan-penggalan panjang kanvas kehidupan yang telah kulalui lebih kurang 33 tahun yang lalu disebuah desa kecil Bayang Pessel. Sebuah diaroma yang menawan waktu itu, irama kesyahduan masih mengalir dengan manisnya dimana setiap orang mencoba untuk bersinergi dengan yang lain.

Aku ditakdirkan tinggal bersama seorang kakek yang . . . → Read More: Kenangan indah bersamamu, kakek…!