|
|
Salah satu peluang menambang dolar atau uang di internet adalah dengan mengikuti sejumlah program paid for click dimana kita mengklik iklan yang dimunculkan dan satu klik kita dibayar 0,01 s/d 0,02 dolar. Kecil memang tapi untuk satu hari ada puluhan sampai ratusan iklan yang bisa kita klik. Apalagi kalau kita mengambil paket referal atau membeli referal maka kalikan saja berapa yang dapat kita tambang perhari. Kuncinya yah mesti sabar aja.
PPC ini menjadi menarik karena tidak ada mensyaratkan kita mesti punya website dan tidak menanyakan apakah website kita tersebut sudah punya pagerank atau trafficnya gimana. Kita cukup registrasi di situs mereka, isi data yang dibutuhkan, konfirmasi email, isi nomor Paypal atau Alertpay, maka selamat datang di dunia klik-klik. Bagi para newbies, jangan kagok-kagok nanya sama Google gimana cara membuat rekening paypal, verifkasi paypal pake creditcard atau VCC ataupun cara membuat rekening alertpay. Everything is okey if we just do it and search on google or other search engine.
Beberapa program PPC yang saya ikuti diantara ratusan atau ribuan program sejenis adalah:
-
neobux.com
-
upbux.com
-
ahbux.com
-
bux.to
saya pernah coba register di clixsense.com tapi mohon maaf aja, untuk saat ini new member dari Indonesia tidak mereka terima (saya tidak tahu atas alasan apa).
Oh ya, kalo kamu udah mendapatkan cukup pemasukan di bux.to maka sudah bisa diuangkan dengan cara dijual di e-gold.com dan bisa dirupiahkan di indochanger.com tapi sampai sekarang saya sendiri belum bisa mendaptkan account di e-gold dengan alasan new member temporarily suspended )apa karena kita berasal dari Indonesia??)
Okey, itu dulu yah,..sebagai langkah awal menambang dolar tanpa harus punya website. Just do it dan tambah koleksi PPC anda dengan searching sama uda gogel. Keep Patience bro,..!
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H kepada segenap netter/blogger, semoga semangat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya dapat kita ambil sebagai modal dasar dalam mengisi pembangunan bangsa tercinta ini, menuju Indonesia yang lebih baik dan berwibawa di mata dunia.
Ups,..hampir saja aku menghantam bemper belakang sebuah mobil yang sewaktu kulewati ternyata sang pengemudinya sedang khusyuk memegang telinganya. Ada apa dengan telinganya?,..oo, ternyata sedang menelpon,..
Treet,..bunyi klakson kendaraan dibelakang megapro menghantam anak telingaku. Ribut kali..aku kan juga dihambat oleh muda didepanku yg sedang pegang telinganya sementara tangan satunya megang stir motor,..oo, ternyata sedang menelpon,.
Dikesempatan lainnya, masih di jalanan, aku menyaksikan
Pasangan ABG yang sedang berboncengan sambil mengetik sms sementara tangan satunya megang stir,..dan dibanyak kesempatan lainnya pemandangan seperti itu menjadi menu jalanan.
Anda barangkali juga pernah mengalami apa saya alami?
Ini menjadi sebuah pertanyaan dalam diriku,..apa mereka begitu tergesa-gesa untuk suatu kegiatan yang sangat penting sehingga untuk berhenti sebentar saja untuk menjawab panggilan tidak ada waktu. Apa mereka tidak sayang dengan diri mereka jika terjadi kecelakaan karena tidak full konsentrasi mengendarai kendaraannya. Atau apakah mereka tidak lagi peduli dengan orang lain yang bisa tertabrak atau menabrak yang lain?.
Pertanyaan tersebut muncul karena saya menyaksikan kekhusyukan yang bersangkutan dalam berhandphone sembari tangan yang lain memegang stir.
Sebenarnya kalau mau dibuat sederhana mereka hanya butuh dua alternatif solusi dalam menyikapi panggilan atau membalas sms ketika sedang mengendarai kendaraannya.
Pertama, mereka bisa berhenti sejenak, meminggir di tepi jalan dan menerima atau membalas panggilan telpon atau SMS dan yang kedua mereka memakai handsfree atau bluetooth headset sehingga mereka dapat lebih enjoy dan keselamatan orang lain yang juga menikmati jalanan dapat terjaga,.
Pertanyaannya sekarang apakah mereka peduli???
Kepada Saudaraku yang Kucintai,…
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Saudaraku,…
Banyak hal yang ingin kusampaikan kepadamu,..disaat secara fisik barangkali kita akan berpisah. Disaat mana ikatan hati kita sedang begitu kuatnya,…merajut impian besar,..tegaknya tatanan kemasyarakatan yang madani,..membangunkan raksasa peradaban yang sedang dilelapkan oleh penghuninya karena menginginkan kesemuan nan menggoda,…
Yaa, Saudaraku,..
Begitu besar asa dan obsesi kita,..yang secara tertatih tatih sudah kita langkahkan kaki lemah kita ini. Yang secara lantang kita kepalkan kepalan mungil kita,..demi sebuah tujuan nan mulia agar kembali cahaya-Nya menyinari mayapada dan nurani insan yang sedang terlena.
Saudaraku,..
Sungguh,..aku sangat mencintai kalian semua,..KARENA ALLAH ‘AZZA WA JALLA.
Izinkan aku menyapamu dengan sebuah tulisan dibawah ini yang saya sudah lupa entah memungutnya dimana, tetapi mudah-mudahan semangatnya menjadi kebaikan bagi penulisnya dan kita semua. Saya yakin anda semua akan dapat memahaminya serta dapat mengambil pelajaran dari butir-butir yang terserak di dalamnya.
INILAH,…KUTIPANNYA,….
Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah . aku tidak mau mengira-ngira.
Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. ‘Inilah yang disebut Padang Mahsyar,’ suaranya begitu menggetarkan jiwaku. ‘Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku,’ batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.
Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.
Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan .
Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. ‘Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku,’ pikirku mantap.
Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.
Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.
Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.
‘Subhanallah, itu si Ujang tukang sol sepatu dekat kantorku,’ aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Si Ujang, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Ujang yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, ‘Ujang yang tukang sol sepatu itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.’ Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku. Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, tek yati penjual lontong yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata ‘maaf’ dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, ‘Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak.’
Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jama’ah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. ‘Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara,’ jelasnya lagi.
Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, ‘Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu.’
Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. ‘Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu,’ bergetar tubuhku mendengarnya.
Anak-anak yatim, Ujang, Tek Yati, pengemis tua, murid-murid pengajian, jama’ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.
Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah., ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini
Saudaraku,…
Marilah,..kita gelorakan semangat membara,…mewujudkan ambisi dan cita-cita kita,..dan marilah kita hilangkan syak wasangka atau tipuan syaithan yang hina, yang terkadang menghembuskan nafas busuknya ditelinga kita,..betapa kita adalah aktifis,…yang sudah begitu hebat,…sudah berbau surga,..sudah tidak lagi ada dosa,…
Dan,..
Sambutlah ungkapan cintaku kepadamu semua serta maafkan jika kata dan tingkahku menyesakkan dada yang membuatmu terluka,,.
Wallahu a’lam bishshowaab. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Hari itu merupakan hari yang bersejarah dalam perjalanan hidupku, betapa tidak telah 35 tahun usiaku, barulah kejadian yang hari tersebut yang dampaknya masih terasa sampai hari ini terutama di Kota Padang di mana aku tinggal. Kejadian tersebut menjadi pembicaraan dimana-mana, menjadi perhatian di seluruh Indonesia malahan dengung dan perhatiannya juga diberikan oleh masyarakat dunia. Peristiwa itu adalah Gempa 30 September 2009 yang melanda Kota Padang dan beberapa Kota/Kabupaten lainnya di Sumatera Barat. Gempa yang berkekuatan 7,6 Skala Richter tersebut telah meluluhlantakkan bumi ranah minang dan meninggalkan kesedihan pada berjuta masyarakat Sumbar serta merubuhkan ribuan bangunan ataupun gedung-gedung.
Hari itu bersama sang Istri, aku sedang mencari pesanan seorang teman yang membutuhkan HP Nexian Berry yang memang lagi naik daun. Setelah selesai sholat Ashar di Masjid Taqwa Muhammadiyah, kami langsung ke daerah pecinan di Pondok dan ternyata di Sinar Telekomunikasi tersebut apa yang kami cari kebetulan telah habis dan istri hanya menukar casing nokia 3120 classicnya yang kebetulan sudah banyak noda-noda bekas makan tangan si kecil Ghozi. Kami langsung menuju XL center di jalan A. Yani yang dari berita koran sedang menbundling Nexianberry tersebut. Akan tetapi setelah sekian lama menunggu antrian kami kembali mendapatkan info bahwa mereka juga sedang kehabisan stok dan sudah banyak yang indent. Okelah, kami pikir memang belum nasibnya sang teman mendapatkan gadget yang diharapkannya. Oh ya lupa, Rita istriku sedang berbisnis kecil-kecilan dengan jualan HP secara kredit. Continue reading Sepotong Pizza Gempa
Abak,..izinkan anakmu mengulangi panggilan yang barangkali akan membuatmu tersenyum di alam sana. Abak,..kurindu dirimu walau ku tak mampu menggambarkan seperti apa rupamu. Abak,..yang kuningat sampai sekarang betapa kokoh bahumu menyandangku ke tepi sungai, berayun-ayun aku datas bahumu, sungguh menyenangkan,..tapi aku tak tahu tahu seperti apa rupamu,. Abak.
Bapakku yang kupanggil abak (kayaknya dari bahasa arab, abi) emang kalo diingat-ingat banyak kosakata bahasa minang yang dekat dengan bahasa arab (example: amak dari ummi, dll deh) makanya minang itu disebut-sebut dekat dengan arab malahan filosofi yang dibangga-2kan begitu heroik “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”; syarak mangato adat mamakai, dan lain sebagainya dan,….stop!. kembali ke topik utama ya,..sorry pembaca, nanti saya sampaikan lebih lanjut dalam seri yang lain; ini kan tags nye kenangan indah.
Bapakku yang kupanggil abak, meninggal sewaktu usiaku sekitar 2 tahunan suatu masa emas bagi seorang anak balita, sedang manja-manjanya, sedang gemes-gemesnya, dan seterusnya. Beliau meninggal dalam usia yang kayaknya belum tua bener, usia 30-tahunan lah kira-kiranya.
Cerita meninggal beliau juga mengharukan karena pada suatu panen padi di Koto Berapak; kami tinggal di desa Lubuk Aur dan Koto Berapak ini desa kelahiran Bapakku; beliau ikut memanen padi membantu keluarga bako dan seperti biasanya ada bagian beliau disana.
Nah, sewaktu mengangkat padi ke heler, beliau mendadak diserang sakit kepala, kalo bahasa minangnya ‘paniang’ sehingga beliau nyender di dinding heler itu dan ketika beliau dipegang oleh temannya ternyata beliau tidak bernafas lagi.
Abak, yang wajahnya tidak lagi kuingat karena sampai sekarang saya tidak mendapatkan dokumentasi berupa foto beliau, duh zaman dulu emang mahal sekali yang namanya foto.
Abak,..
Moga engkau tenang disisi-Nya dan mudah-2an kita dipertemukan-Nya kelak ditempat yang sebaik-baiknya.
Kisah ini aku cukil dari penggalan-penggalan panjang kanvas kehidupan yang telah kulalui lebih kurang 33 tahun yang lalu disebuah desa kecil Bayang Pessel. Sebuah diaroma yang menawan waktu itu, irama kesyahduan masih mengalir dengan manisnya dimana setiap orang mencoba untuk bersinergi dengan yang lain.
Aku ditakdirkan tinggal bersama seorang kakek yang telah memelihara aku dan adik perempuanku di sebuah ‘parak’ kecil yang ditanami ketela pohon, ubi rambat, dan beberapa pokok kelapa serta memelihara beberapa ekor ayam. hampir setiap hari rabu pagi kakekku dengan tertatih-tatih dalam ketuaannya membawa kelapa, ubi rambat, maupun ketela pohon kepasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari desa kami.Pulangnya dari pasar beliau telah membawa ikan asin, keripik, ataupun kadang martabak yang kemudian kami nikmati dengan lahap.
Banyak semangat positif yang beliau tularkan kepada kami berdua; hampir tidak pernah bosan beliau menasehati kami agar jadi orang, hamper setiap pagi jam 3 beliau telah bangun dengan rutinitas yang hampir setiap pagi beliau lakukan (buang air besar disebuah cerukan bekas sumur dibawah pokok kelapa yang ada ‘tabuhan’ diatasnya, membakar singkong sambil menghangatkan tubuh ringkihnya, ditemani oleh secangkir teh yang sampai sorenya terus ditambahi air sehingga rasanya sudah sangat hambar, dan selesai shalat subuh maka tubuh beliau akan berkeringat karena mengayunkan pacul hatta hanya sekedar menyiangi rumput-rumput yang bandel terus bertumbuhan serta kemudian beliau akan mandi pada sebuah sumur tua yang masih berisi air ditegalan bawah parak kami.
Sementara apa yang aku lakukan waktu itu?. Aku dalam usia anak-anak itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain-main; mengganggu adikku sehingga dia sering menangis, sembunyi-sembunyi mengambil beberapa butir telur ayam dan kemudian dijual untuk beli makanan, atau mencuri buah pala dari parak/ladang tetangga untuk dijual dan dibelikan makanan atau nonton video didesa tetangga.
Waktu itu, bisa menonton video ditempat yang sangat jauh tersebut sudah merupakan kebahagian dan kebanggaan karena keesokan harinya akan berbusa-busa mulutku menceritakan tentang heroiknya lakon yang semalam kutonton.
Oh,..ya. kita kembali kepada kisah awal tentang kakekku karena hal-hal lain tersebut akan kuceritakan dalam kesempatan lainnya.
Setamat SMP, aku berangkat ke Padang, ikut ibuku yang sudah merantau sejak aku masih kecil, semenjak bapakku meninggal dunia dan akhirnya ibuku menikah yang sampai sekarang telah memberiku 3 orang adik seibu.
Aku kemudian larut dengan irama hidup nun jauh dirantau jauh dari kakekku yang hampir tak pernah lagi kusapa dan kujenguk ke kampung sampai suatu hari ada berita yang dibawa orang kampung bahwa kakekku telah meningggal dunia tanpa aku belum sempat membalas jasa beliau walau hanya dengan ucapan terima kasih dan bersimpuh dikaki kurusnya.
Aduhai kakek, maafkanlah cucumu yang tidak mampu membalas jasamu, terenyuh aku sampai sekarang melihat dipan tuamu serasa engkau masih disana menatapkku dengan harap kapan cucu yang dibesarkannya pulang walau hanya membelikan sebungkus rokok kawung kesukaanmu, maafkan aku kakek yang sampai sekarang tidak pernah lagi melihat kuburanmu sejak dimakamkan dulu, maafkan aku kakekku karena aku jarang mendo’akanmu seolah tidak ada jasa yang kau taburi dalam kisah hidupku.
Ya Allah, berikan hamba kesempatan untuk meneladani kakekkku dengan kesederhanaan dan kerja ikhlasnya; lapangkanlah jalannya menuju-Mu dan berilah dia kesempatan tersenyum dialam sana karena menyaksikan aku sudah mencoba menjalannkan amanahnya menjadi orang yang berguna masyarakat banyak.
Kakek, kurindu belaian tangan kurusmu, kurindu mendengar batukmu yang seumpama Mozart mendayu; kurindu pandanganmu yang menikam relung kalbuku dengan berjuta kata mutiara biru,..Kakek, kurindu padamu dan tunggu aku di gerbang sorga-Nya agar bersama kita menuju rumah abadi yang akan kita huni selamanya,….sampai tak berbilang waktu.
Hallo, ini merupakan postingan pertamaku sejak punya domain dan web hosting. Mudah-mudahan membawa mamfaat untuk kita semua. Bravo,..!
|
|